Saturday, 21 June 2014

waiting



untuk perempuan dengan secangkir cokelat panas,

Apa kamu sudah lelah menunggu? Kepulan uap yang sedari tadi menemanimu mulai menipis. Cokelat panas itu sudah jenuh menunggu sambutan bibir pemesannya. Apa yang kamu tunggu orang yang sama dengan kemarin? Bukankah ia tak pernah mengisyaratkan akan kedatangannya? Lantas apa yang dinanti?

Samar-samar aku mendengar dengusan napas. Tapi, telingaku tak menangkap nada-nada keluhan yang mengalun. Kamu hanya menadahkan tangan sebelah kiri untuk melihat arloji tua. Ini kali ke sembilan sejak tirai pintu masuk dibuka dan kamu mulai menunggu dengan tenang. Setenang buih-buih di dalam cangkir yang menghilang sedikit demi sedikit.

Hari ini aku tak melihat topi dengan pinggiran lebar yang biasa kamu pakai. Aku memang belum lama tinggal di negeri ini. Tapi yang aku tahu, di sini seorang wanita dikatakan berpakaian lengkap apabila memakai topi dan sarung tangan, bukan? Apa mungkin di sini seorang wanita juga bisa merasa gerah menyelimuti diri dengan segala tradisi keanggunannya? Asal itu bisa membuat iris mata kebiruanmu bersanding dengan awan senja, aku tak akan memperdulikannya.

 Apa kamu masih mau menunggu? Ketika orang yang kamu tunggu hanya menyisakan lubang-lubang di sekujur tubuh dan goresan bekas bayonet di sepanjang arterinya, apa kamu masih sanggup menunggu? Jiwaku dipaksa terbang saat kutarik lepas tangan sebelah kanannya dari balik bongkahan batu yang menghempas setelah dilemparkan setinggi puluhan kaki oleh proyektil-proyektil besar. Bahkan sampai akhir napasnya pun, aku masih menjadi sahabat yang menyusahkan.

Aku dipulangkan setelah tak sanggup lagi melihat darah. Aku kembali dari garis depan ke tempat di mana aku pertama kali bertemu dengan kalian—sepasang manusia dengan kehidupan sederhana namun sesempurna cinta. Aku pulang dengan mengunyah peluru di mulut. Yang bisa kuberikan hanya kalung dengan sepotong tembaga bertuliskan namanya.

Apa kamu sudah siap untuk menunggu lebih lama, wanita tanpa topi dan teh?


Monday, 9 June 2014

Wanita Sempurna dengan Sekotak cinta



            Tidak ada yang lebih membosankan selain pergi sekolah seusai minggu-minggu ujian. Tak sedikit teman-temanku yang mencuri libur terlebih dahulu. Padahal masih seminggu  lagi sebelum hasil ujian dibagikan. Entah seberapa tinggi tingkat kepercayaan diri mereka untuk mendapatkan nilai sempurna sampai-sampai bisa pergi berlibur dengan tenang. Yah, bisa saja memang aku pergi bersama teman-teman dekatku yang lain berlibur ke kota di pinggir pantai atau mengikuti ekor ibuku dan sampai di sebuah rumah milik seorang pria sederhana di kaki gunung. Sayangnya aku sedikit berbeda dengan teman-temanku yang lain, yang menganggap creditcard seperti kartu tanda penduduk dari surga yang bisa menyelesaikan semua urusan di depan meja kasir, atau seperti ibuku yang tak pernah bosan terbang ke sisi lain pulau hanya untuk mengunjungi calon suaminya yang terlalu sibuk bekerja. Mereka meninggalkanku begitu saja dikelilingi tugas-tugas yang harusnya bisa lebih ringan jika setidaknya ada seorang saja yang tinggal untuk membantuku. Huh, teman akrab apanya! Sahabat dekat apanya!

Bisa dibilang aku sedikit perfeksionis untuk urusan nilai. Tugas tambahan, setumpuk makalah, lembaran-lembaran soal, semua demi nilai sempurna untuk melampaui pencapaian seorang anak laki-laki yang tak pernah aku tau siapa namanya. Hanya untuk melampaui hal-hal yang selalu terlihat sempurna saat disentuhnya. Aku memang tak pernah melihat buku rapornya, tapi dari raut wajahnya aku bisa menebak seberhasil apa dia di semua bidang. Kecuali olahraga sepertinya, sebuah pengecualian.

Predikatnya yang direndahkan orang-orang di sekelilingnya tak membuatnya bergeming sedikitpun dari sikap duduk diam dan tenang. Mungkin dia punya kekuatan super untuk tidak memperdulikan hal apapun. Hanya itu jawaban logis yang kudapatkan tiap kali dari kejauhan kudapati dia sedang asik merenung sambil membuka lembaran-lembaran bukunya. Seolah-olah mereka berkomunikasi. Seolah-olah buku itu berteman dengannya. Walau lelucon-lelucon konyol kerap didapatinya selama jam istirahat dan pulang sekolah, entah bagaimana dia bisa tetap terhanyut bersama tumpukan buku-buku anehnya. Mungkin dia memiliki dunia sendiri yang tak terjamah oleh tangan-tangan jahil dengan segala macam keisengan yang aku yakin dia pasti sudah hafal betul, mengingat seberapa seringnya ia dipermainkan.

            Dia memang sedikit berbeda dari yang lain, maksudku, tak seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya yang tak ada bosan-bosannya menegur dengan antusias, atau mencoba membangun percakapan dan berseda gurau. Setahuku hanya satu kata yang pernah dia ucapkan padaku, “maaf”, itupun karena aku tak sengaja memotong jalannya sampai buku-buku bawaannya berjatuhan di lantai. 

Dia begitu menikmati hidupnya yang berat. Dihujani cemooh setiap harinya. Tapi dia masih saja bisa tersenyum ketika mengusap lembut permukaan kasar bukunya yang tak pernah berdebu. Pola pikir macam apa yang dia miliki? Apa menurutnya kebahagiaan hanya sesedarhana membaca buku klasik? Bagaimana dia bisa merasa begitu bahagia dengan hal-hal sederhana yang bahkan menurutku sangat sepele. Sedangkan aku, aku harus menyelesaikan gunungan tugas dari tiap-tiap guru mata pelajaran untuk mencapai setitik kebahagiaan mendapat nilai terbaik. Ah, he’s my kryptonite. Otakku serasa terkuras habis kapasitasnya hanya untuk mengamati pola pikirnya.

Setumpuk kata tanya berbaris di kepalaku siang ini, di bawah pohon tua yang hampir habis dimakan usia. Apa yang membedakan dia dengan ku sehingga mata kami berbeda? Apa yang salah? Bagaimana bisa ada yang salah? Di mana letak kesalahan yang aku perbuat? Kenapa.... kenapa aku terlalu perduli soal ini? Gumamanku terhenti ketika diajak berpikir lebih dalam oleh pertanyaan terakhir tadi. Kenapa harus perduli padanya, ah bukan, kenapa harus tertarik padanya. Ya, aku tertarik dengan caranya berteman. Walaupun bukan dengan manusia, setidaknya dia memiliki teman yang bisa mengerti perasaannya. Mungkin buku itu tidak bisa mengerti perasaan manusia, tetapi dia sangat yakin jika buku itu juga merasakan kepedihannya. Hanya perlu seperti itu dan dia merasa bahagia. Jangan bertanya soal teman-temanku. Mungkin mereka sekarang sedang mengelilingi pusat perbelanjaan atau menyedot sari kelapa muda bersama turis-turis mancanegara. Dan itu tidak bisa membuat mereka mengerti sedikitpun tentang isi kepalaku.

            Aku memandanginya dari balik antrian panjang di kantin sekolah. Menontonya dikerjai habis-habisan oleh berandalan-berandalan kaya di meja makannya. Aku terhanyut. Di balik tumpukan-tumpukan buku yang menutupi separuh wajahnya, aku masih bisa melihat sekilas bola mata coklat tua bersemburat emas dengan sorotan yang tajam. Kepedihan dan penghinaan mungkin menjadi pengasah yang baik selama hampir tiga tahun ini. Walaupun diselimuti kacamata tebal yang kerap menyilaukan tetap saja mat... eh, gawat, dia melihat ke sini. Ah, hampir. tidak lucu rasanya dipergoki orang yang sedang diam-diam kita perhatikan. Oh, I really hate that awkward slowmotion moment. Aku membalik badan dan duduk di kursi yang memunggunginya. Cukup beruntung kali ini aku sendirian. Tanpa teman-temanku yang sangat ribut dan tak bisa duduk dengan rapi, aku tak akan bisa menikmati makan siang sambil mengamati tingkah uniknya. Yang ku maksud unik adalah bagian di mana dia masih bisa menikmati santap siang tanpa terganggu sedikitpun dengan lemparan botol plastik atau semacamnya. Oh, aku bahkan tak bisa mengunyah jika ada yang berbicara di dekatku.

            Kembali ke balik dedaunan rimbun di bawah pohon tua tadi, hari ini aku resmi merasa kesepian. Monolog yang sedari tadi kubuat seolah-olah menambah rangsangan ke otak untuk menyadarkann betapa membosankannya hari ini. Sinar matahari melarangku melangkah ke ruang kesenian, padahal kelas paduan suara sudah dimulai sepuluh menit yang lalu. Biasanya aku akan sangat antusias untuk ikut melatih vokal. Bukan masalah minat atau bakat. Setidaknya aku bisa mengamati sosok misterius yang sangat dingin itu satu jam lebih lama dari hari biasanya. Kelas jurnalnya yang berseberangan dengan ruang kesenian tak jarang memberikanku kesempatan untuk mencari tahu tentangnya lebih banyak.

Walaupun hanya dalam diam, entah kenapa perasaan kecil ini terus tumbuh membesar, membelah, dan semakin banyak tiap harinya. Seperti pohon-pohon yang tinggi menjulang di tengah belantara kalimantan. Mereka tumbuh tanpa perawatan. Sama seperti perasaan ini, yang tumbuh hanya dengan mengikuti kehendak alam, tanpa ada yang berani memulai untuk perduli dan merawatnya. Ini bukan perasaan kasihan, atau bahkan kasih sayang. Mungkin ini perasaan iri yang tumbuh semakin tinggi, seiring semakin tingginya taraf-taraf kebahagiaan yang terpaku di langit.




"thanks to Ms. Green, who let me made a sequel of her old story. very enjoying to write and explore many things about this rare idea. feel so glad that i can learn about the other writer mindset. oh, if i can eat your brain, miss. read the another story of this at here."

Saturday, 22 March 2014

kenapa cinta tak harus saling memiliki?



            Lengkingan panjang seperangkat elektrokardiogram membangunkan ku dari sebuah mimpi buruk. Seorang pria paruh baya tertidur pulas di sebelah ku. Bibirnya kering sedikit pucat. Aku berguling sedikit menjauhinya, mencoba turun dari ranjang putih yang penuh noda kekuning-kuningan—seperti bekas lendir menjijikkan yang dibiarkan lama mengering.

            Pagi ini tak sesepi biasanya. Koridor dengan puluhan pintu berkaca buram di tiap sisinya tampak lenggang. Hanya beberapa kursi roda yang sesekali berlalu-lalang. Bosan berdiam tampaknya membuat mereka tak bisa diam. Kemana keramaian pergi? Kemana hiruk-pikuk dan jeritan tangis berlari? Sudah sekian lama aku tak pernah merasa sesepi ini. Bahkan  kesedihan pun meninggalkan tuannya.

Sekedar memecah keheningan, ku mainkan biola lama milik Si Tua Vivaldi. Aku yakin dia tak akan keberatan jika satu atau dua pegs-nya tak sengaja aku patahkan ketika menyetel biola sumbangnya ini. Lagi pula tangannya yang sekarang—hanya bersisa rekatan tulang dengan sendi seadanya—tak bakal mau lagi menyentuh busur biola. Bersandar pada bingkai jendela kusam yang ditempeli debu-debu kasar, kuhidupkan kembali Landon Pigg dan kenangan-kenangan di dalamnya.

I think that possibly, maybe I'm falling for you.
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the paths that your eyes wander down, I want to come too.

            Sebuah lagu yang sering dimaikan mantan penghuni kamar sebelah cocok sekali dengan cuaca hari ini. Dia kerap kali bercerita panjang lebar tentang kekasihnya. Kadang dia merincikan sebuah kedai kopi favoritnya di pinggiran kota. Bocah yang baru belasan tahun itu selalu berurai air matanya tiap kali mengecap melodi lagu ini. Kadang ia bercerita dalam tidurnya. Mengigau, tapi sangat jelas. Seperti seorang pelaut yang baru saja menghabiskan Vodka terakhirnya, ia bercerita dengan mata terpejam, sambil tangannya menggapai-gapai langit, kadang mencoba membuat gestur yang menggambarkan keanggunan wanitanya.

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

            Kadang aku merindukan untuk masuk kedalam tubuhnya sekali lagi. Merasakan perasaan yang paling rumit sedunia. Beberapa kali aku hidup di dalam mimpinya, tak sekalipun aku berhasil memecahkan pertanyaan paling aneh yang sering kali dilontarkannya tiap kali kami berbincang. Dia bilang orang seperti aku akan paham bagaimana menjawabnya. Ketika aku berada di dalam kepalanya, aku tetap saja merasa bodoh. Tak mampu menjawab berbagai tanya yang diberikannya. Dia membiarkan ku memasuki hidupnya, mulai dari otak besar, sampai ke bagian otak kecil. Aku menikmati tiap jengkal memori yang dimilikinya. Mencabut potongan-potongan film pendek itu dari balik kepala yang rambutnya mulai menipis.


If I didn't know you, I'd rather not know
If I couldn't have you, I'd rather be alone

            Tapi sekarang aku mulai paham. Pertanyaan yang ia ajukan sesaat sebelum isi kepalanya berganti status sebagai makan malam. Ketika ia bertanya kenapa cinta tak harus memiliki, saat ia bertanya kenapa cinta sejati tak bisa disatukan. Jika sekali lagi ia bertanya, kenapa cinta tak bisa dimiliki olehnya—laki-laki yang hatinya meluap karena perasaan yang kuat, namun hiidupnya lemah karena tak seberuntung penghuni dunia lainnya, aku sudah bisa menjawab.

            Jika cinta harus selalu memiliki, entah berapa banyak perang yang harus diberi nama. Ketika cinta harus mengalah dengan keadaan, relakanlah. Karena bentuk terbesar dari mencintai seseorang adalah merelakannya untuk memperbaiki keadaan.

Thursday, 27 February 2014

I am Cold, I am Zombie



“lihat deh, bukunya bagus!” perempuan dengan bola mata coklat muda bersemburat hitam iu menyodorkan sebuah buku tebal—sekitar enam ratus halaman mungkin—ke depan wajahku, mengayun-ayunkannya pelan agar aku tak segera mengambil dan membaca sinopsisnya. Dia sepertinya bisa menerka apa yang akan aku katakan jika membaca bagian belakang buku dengan sampul kombinasi warna cerah itu.

“jangan! Kalo kamu baca entar aku nggak jadi beli lagi.” Bibirnya dikatupkan kedepan, mirip gaya selfie anak-anak muda zaman sekarang.

“pasti gara-gara ada gambar menara karatan itu kan? Bukannya kamu sudah punya belasan yang seperti itu di rak bukumu? Cerita cinta dengan latar belakang Paris, apa menariknya?”

“cowok yang hatinya dingin kayak kamu gak bakal bisa ngerti soal kisah cinta yang luar biasa. Kamu taunya cuma soal darah, pisau, kaliber berlapisnya revolver, setumpuk trik pembunuhan, metode-metode deduksi, dan segala macamnya.” Caranya berbicara tak kalah cepat dari sebuah peluru yang dimuntahkan senapan laras panjang. Sambil berbalik menghadap ke deretan-deretan buku dengan tulisan ‘novel terjemahan’ di atas raknya, dia dengan nada yang ditinggikan tak henti-hentinya mengomentari selera bacaanku. Seperti sebuah jumbojet yang kehilangan tuas remnya.

“kamu itu coba deh sekali-kali baca buku yang ada kasih sayangnya. Kalo baca buku bunuh-bunuhan gitu terus, lama-lama kamu juga bisa jadi pembunuh kali.” Dia tertawa pelan sambil meremas lengan kananku. Senyumnya yang tipis terlihat mengintip dari sela pipinya yang kemerahan. Saat demam pun dia masih lebih pintar melucu dariku.

“aku sudah pernah baca buku-buku semacam itu, kok. Aku baca sampai habis bukumu yang tertinggal di jok belakang minggu lalu, tentang seorang pria yang mencoba melompat dari balkon rumahnya untuk bunuh diri tapi gagal karena bujukan seorang wanita yang bahkan belum pernah dia temui.”

“benarkah? Lalu bagaimana menurutmu ceritanya, bagus kan?” dia membalik badan. Menunggu ekspresi ketertarikan macam apa yang akan aku tunjukan.

“menurutku, kamu sengaja ninggalin buku itu biar aku baca selagi nungguin kamu pergi shopping dengan mama kamu.” dahinya mengernyit mendengar jawabanku. Dia tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.

“kamu kenapa serius bener sih jadi cowok? Setiap hal kamu pikirin sejauh itu. Nanti otak kamu capek loh. Nanti kalo otaknya capek bisa-bisa jadi cepet tua. Hiii...” bahunya dinaikan seolah ingin menakuti. Tangannya melonggarkan sedikit ikatan dasi yang memang selalu aku pakai sampai ke atas agar terlihat rapi.

“rapi bener. Ini lagi nge-date, loh, bukan lagi nyerahin tugas kimia yang sering kamu tinggalin itu.” Tangannya lalu mengacak-acak rambutku yang masih tertata rapi untuk menghindari razia dadakan tadi pagi. Aku sedikit berputar arah menghadap jendela, mendapati siluet diriku dengan rambut mirip Gohan yang berubah menjadi Super Saiyan.

“eh, sini-sini liat deh!” tangannya—yang kontras dengan punyaku yang penuh kapal di bagian ujung jari karena terlalu sering beradu dengan dawai gitar—menarik lenganku sambil menunjuk-nunjuk sebuah buku yang sedikit mengganjal judulnya.

“ ‘when zombie went to paris, he fall in love’? Kenapa kamu selalu suka buku yang bahkan judulnya nggak masuk akal kayak gini?” Kulipat kedua tanganku di depan dada, memasang tampang berpikir namun tak terlalu dalam. Entah apa yang merasuki pengarang buku ini. Terlalu banyak aturan yang dia langgar. Terlalu banyak ketentuan yang dibelokkannya.”

“zombie mana bisa jatuh cinta. Mau mikir aja susah, apa lagi jatuh cinta.”

“cinta kan nggak butuh mikir. Butuhnya cuma perasaan doang. Makanya, kamu harus perdalam lagi soal masalah cinta-cintaan.”

“yang nama zombie itu taunya cuma makan sama makan. Buang air aja nggak kan. Mana bisa zombie ngerasain cinta lagi. Hatinya udah kering gitu.”

Berbagai komentar terlontar selama berpuluh-puluh menit dari pikiran kami. Seorang pegawai yang sedang merapikan susunan buku sampai terheran-heran dengan gelak tawa kami yang kadang tiba-tiba pecah dan memenuhi sudut toko buku yang sedang sepi itu. Jam segini memang jarang ada orang  yang pergi ke toko buku. Terlalu pagi untuk istirahat makan siang, terlalu siang untuk jam masuk pagi. Kebetulan saja guru-guru di sekolahku mengadakan rapat mendadak karena sebuah kendala serius menghambat persiapan ujian sekolah.

“kalo misalnya ada zombie beneran kamu mau ngapain?” tanyanya sambil menyandarkan punggungnya di lenganku yang sedang melamun melihat kendaraan yang berlalu-lalang.

“mungkin aku akan mengambil beberapa butir peluru yang selalu diselipkan ayah di dalam saku jas kerjanya. Jika beruntung, sekali tembakan tepat di bagian dahi.” Tanganku membentuk sebuah model handgun dan mendorong kepalanya di bagian dahi dengan telunjuk yang pura-puranya menjadi laras senjatanya.

“kalo aku, mungkin aku akan lari ke Paris. Siapa tau nanti ada zombie yang ternyata beneran bisa jatuh cinta.”

“ya, menurutku yang satu itu mungkin saja bisa terjadi.”

“bagaimana bisa?”

“aku yang berubah menjadi zombie mengejarmu hingga ke bawah Eiffel dan jatuh cinta sekali lagi denganmu.” Aku duduk bersandar di bagian samping sebuah rak buku yang menghadap ke jalanan. Dia mengikuti. Speaker di sudut ruangan sedang memaikan lagu falling in love at a coffee shop, mendadak aku jadi ingin menyeruput beberapa cangkir Espresso.

“ke seberang sana, yuk. Daripada jauh-jauh ke tempat favorit kamu itu. Kopinya sama-sama item juga kan.” Dia menarikku berdiri. Perempuan paling pengertian ini sepertinya paham betul isi kepalaku.

“nggak jadi beli buku yang zombie-zombiean tadi? Aku kira kamu suka bukunya.”

“nggak, ah. Aku beli buku yang tadi aku tunjukin ke kamu aja. Ngapain beli buku soal zombie kalo aku udah punya yang beneren di sini?” dia tertawa tertahan sambil meraih sebuah buku yang letaknya cukup tinggi.

“kamu beneran mirip zombie ya. Ketawa aja susah bener. Yang barusan itu lucu baget loh.” Godanya sambil berjalan ke arah meja kasir, meninggalkanku yang masih terpaku dengan buku berzombie tadi. Mirip ya?

When zombies are exist, and you still alive. You have two choice, to be a brave one or die as a zombie –Miss. Green (i rather to be a zombie if that can give me a chance to  falling in love with her again, Miss.)

Thursday, 13 February 2014

Love is Flawed: Valentine


            Same bed but it feels just a little bit bigger now. Our song on the radio but it don't sound the same. When our friends talk about you, all it does is just tear me down, cause, my heart breaks a little when I hear your name.

            Pada awalnya, cinta menawarkan sesuatu yang begitu indah dengan investasi ringan. Cinta menawarkan hal-hal bodoh yang menyenangkan. Tertawa lepas, humor-humor garing yang memaksa untuk ditertawakan, makan siang tanpa kesepian. Semuanya berada dalam satu paket dengan syarat sederhana; hidupmu berkurang beberapa jam tiap harinya.
           
            Pada puncaknya, cinta menjadi semakin egois. Cinta menuntut banyak hal. Tapi tak lupa menepati janji awalnya. Pelukan hangat selalu tersedia kapan pun salju turun, sepasang kaki tak lagi harus lelah berjalan sendiri-sendiri, pipi yang memerah porinya selalu digenangi liur yang melekat dari candaannya untuk membujuk. Semuanya diperjual belikan dengan mata uang langka; perasaan. Semakin banyak yang kau beli, semakin banyak kehilangan dalam diri.

            Pada akhirnya, cinta bermutasi menjadi gumpalan hitam di dalam cermin. Kelamnya menutupi bagian hati yang ingin direfleksi. Gempitanya merusak keteraturan cahaya yang seharusnya bisa dengan mudah semesta belokkan. Pada akhirnya, kita semua akan sendirian di dalam gelapnya.

             I realize that I should have bought you flowers and held your hand. I should have gave you all my hours when I had the chance. And take you to every party, Cause, all you wanted to do was dance.

            Entah siapa yang memulainya, memuja cinta dengan semangat yang menggebu. Budaknya berseru mengatas namakan kasih sayang. Bersujud pada berhala berbentuk hati yang kurang realis desainnya. Kepada setiap umatnya—seolah cinta hanya turun satu kali setahun—cinta menjabat tangan mereka dan membisikkan perjanjian-perjanjian setan. Mereka lupa dengan sakitnya kehilangan. Mereka dibuat lupa akan besarnya kesakitan yang tak bisa tergantikan. Apa dunia sudah cukup bodoh untuk berubah menjadi merah muda? Menanggalkan warna hijau klasiknya dan menggunakan syal rajutan tangan dari kekasih. Motif hatinya pun tak bagus, benangnya kusut, dan warnanya memudar. Dari merah muda, menjadi merah anak-anak.


            Now my baby's dancing. But, she's dancing with another man


            Sejak dulu aku ingin menjadi cinta, mengirimkan sugesti-sugesti bodoh yang efeknya lebih kuat dari ganja, lebih candu dari marijuana. Harusnya cinta dikubur saja di Tartaros, berdampingan dengan mayat Kronos yang habis membatu. Demi petir Zeus yang tak lebih kuat dari tegangan kabel-kabel di atas tempat tidurku, aku berdoa untuk kesakitan mereka yang bercinta. Agar mereka sadar. Cinta yang membutakan, cinta yang menyumbat telinga, cinta yang memutus pita suara, cinta yang memecah tubuh menjadi berjuta-juta jaringan.