Thursday, 27 February 2014

I am Cold, I am Zombie



“lihat deh, bukunya bagus!” perempuan dengan bola mata coklat muda bersemburat hitam iu menyodorkan sebuah buku tebal—sekitar enam ratus halaman mungkin—ke depan wajahku, mengayun-ayunkannya pelan agar aku tak segera mengambil dan membaca sinopsisnya. Dia sepertinya bisa menerka apa yang akan aku katakan jika membaca bagian belakang buku dengan sampul kombinasi warna cerah itu.

“jangan! Kalo kamu baca entar aku nggak jadi beli lagi.” Bibirnya dikatupkan kedepan, mirip gaya selfie anak-anak muda zaman sekarang.

“pasti gara-gara ada gambar menara karatan itu kan? Bukannya kamu sudah punya belasan yang seperti itu di rak bukumu? Cerita cinta dengan latar belakang Paris, apa menariknya?”

“cowok yang hatinya dingin kayak kamu gak bakal bisa ngerti soal kisah cinta yang luar biasa. Kamu taunya cuma soal darah, pisau, kaliber berlapisnya revolver, setumpuk trik pembunuhan, metode-metode deduksi, dan segala macamnya.” Caranya berbicara tak kalah cepat dari sebuah peluru yang dimuntahkan senapan laras panjang. Sambil berbalik menghadap ke deretan-deretan buku dengan tulisan ‘novel terjemahan’ di atas raknya, dia dengan nada yang ditinggikan tak henti-hentinya mengomentari selera bacaanku. Seperti sebuah jumbojet yang kehilangan tuas remnya.

“kamu itu coba deh sekali-kali baca buku yang ada kasih sayangnya. Kalo baca buku bunuh-bunuhan gitu terus, lama-lama kamu juga bisa jadi pembunuh kali.” Dia tertawa pelan sambil meremas lengan kananku. Senyumnya yang tipis terlihat mengintip dari sela pipinya yang kemerahan. Saat demam pun dia masih lebih pintar melucu dariku.

“aku sudah pernah baca buku-buku semacam itu, kok. Aku baca sampai habis bukumu yang tertinggal di jok belakang minggu lalu, tentang seorang pria yang mencoba melompat dari balkon rumahnya untuk bunuh diri tapi gagal karena bujukan seorang wanita yang bahkan belum pernah dia temui.”

“benarkah? Lalu bagaimana menurutmu ceritanya, bagus kan?” dia membalik badan. Menunggu ekspresi ketertarikan macam apa yang akan aku tunjukan.

“menurutku, kamu sengaja ninggalin buku itu biar aku baca selagi nungguin kamu pergi shopping dengan mama kamu.” dahinya mengernyit mendengar jawabanku. Dia tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.

“kamu kenapa serius bener sih jadi cowok? Setiap hal kamu pikirin sejauh itu. Nanti otak kamu capek loh. Nanti kalo otaknya capek bisa-bisa jadi cepet tua. Hiii...” bahunya dinaikan seolah ingin menakuti. Tangannya melonggarkan sedikit ikatan dasi yang memang selalu aku pakai sampai ke atas agar terlihat rapi.

“rapi bener. Ini lagi nge-date, loh, bukan lagi nyerahin tugas kimia yang sering kamu tinggalin itu.” Tangannya lalu mengacak-acak rambutku yang masih tertata rapi untuk menghindari razia dadakan tadi pagi. Aku sedikit berputar arah menghadap jendela, mendapati siluet diriku dengan rambut mirip Gohan yang berubah menjadi Super Saiyan.

“eh, sini-sini liat deh!” tangannya—yang kontras dengan punyaku yang penuh kapal di bagian ujung jari karena terlalu sering beradu dengan dawai gitar—menarik lenganku sambil menunjuk-nunjuk sebuah buku yang sedikit mengganjal judulnya.

“ ‘when zombie went to paris, he fall in love’? Kenapa kamu selalu suka buku yang bahkan judulnya nggak masuk akal kayak gini?” Kulipat kedua tanganku di depan dada, memasang tampang berpikir namun tak terlalu dalam. Entah apa yang merasuki pengarang buku ini. Terlalu banyak aturan yang dia langgar. Terlalu banyak ketentuan yang dibelokkannya.”

“zombie mana bisa jatuh cinta. Mau mikir aja susah, apa lagi jatuh cinta.”

“cinta kan nggak butuh mikir. Butuhnya cuma perasaan doang. Makanya, kamu harus perdalam lagi soal masalah cinta-cintaan.”

“yang nama zombie itu taunya cuma makan sama makan. Buang air aja nggak kan. Mana bisa zombie ngerasain cinta lagi. Hatinya udah kering gitu.”

Berbagai komentar terlontar selama berpuluh-puluh menit dari pikiran kami. Seorang pegawai yang sedang merapikan susunan buku sampai terheran-heran dengan gelak tawa kami yang kadang tiba-tiba pecah dan memenuhi sudut toko buku yang sedang sepi itu. Jam segini memang jarang ada orang  yang pergi ke toko buku. Terlalu pagi untuk istirahat makan siang, terlalu siang untuk jam masuk pagi. Kebetulan saja guru-guru di sekolahku mengadakan rapat mendadak karena sebuah kendala serius menghambat persiapan ujian sekolah.

“kalo misalnya ada zombie beneran kamu mau ngapain?” tanyanya sambil menyandarkan punggungnya di lenganku yang sedang melamun melihat kendaraan yang berlalu-lalang.

“mungkin aku akan mengambil beberapa butir peluru yang selalu diselipkan ayah di dalam saku jas kerjanya. Jika beruntung, sekali tembakan tepat di bagian dahi.” Tanganku membentuk sebuah model handgun dan mendorong kepalanya di bagian dahi dengan telunjuk yang pura-puranya menjadi laras senjatanya.

“kalo aku, mungkin aku akan lari ke Paris. Siapa tau nanti ada zombie yang ternyata beneran bisa jatuh cinta.”

“ya, menurutku yang satu itu mungkin saja bisa terjadi.”

“bagaimana bisa?”

“aku yang berubah menjadi zombie mengejarmu hingga ke bawah Eiffel dan jatuh cinta sekali lagi denganmu.” Aku duduk bersandar di bagian samping sebuah rak buku yang menghadap ke jalanan. Dia mengikuti. Speaker di sudut ruangan sedang memaikan lagu falling in love at a coffee shop, mendadak aku jadi ingin menyeruput beberapa cangkir Espresso.

“ke seberang sana, yuk. Daripada jauh-jauh ke tempat favorit kamu itu. Kopinya sama-sama item juga kan.” Dia menarikku berdiri. Perempuan paling pengertian ini sepertinya paham betul isi kepalaku.

“nggak jadi beli buku yang zombie-zombiean tadi? Aku kira kamu suka bukunya.”

“nggak, ah. Aku beli buku yang tadi aku tunjukin ke kamu aja. Ngapain beli buku soal zombie kalo aku udah punya yang beneren di sini?” dia tertawa tertahan sambil meraih sebuah buku yang letaknya cukup tinggi.

“kamu beneran mirip zombie ya. Ketawa aja susah bener. Yang barusan itu lucu baget loh.” Godanya sambil berjalan ke arah meja kasir, meninggalkanku yang masih terpaku dengan buku berzombie tadi. Mirip ya?

When zombies are exist, and you still alive. You have two choice, to be a brave one or die as a zombie –Miss. Green (i rather to be a zombie if that can give me a chance to  falling in love with her again, Miss.)

Thursday, 13 February 2014

Love is Flawed: Valentine


            Same bed but it feels just a little bit bigger now. Our song on the radio but it don't sound the same. When our friends talk about you, all it does is just tear me down, cause, my heart breaks a little when I hear your name.

            Pada awalnya, cinta menawarkan sesuatu yang begitu indah dengan investasi ringan. Cinta menawarkan hal-hal bodoh yang menyenangkan. Tertawa lepas, humor-humor garing yang memaksa untuk ditertawakan, makan siang tanpa kesepian. Semuanya berada dalam satu paket dengan syarat sederhana; hidupmu berkurang beberapa jam tiap harinya.
           
            Pada puncaknya, cinta menjadi semakin egois. Cinta menuntut banyak hal. Tapi tak lupa menepati janji awalnya. Pelukan hangat selalu tersedia kapan pun salju turun, sepasang kaki tak lagi harus lelah berjalan sendiri-sendiri, pipi yang memerah porinya selalu digenangi liur yang melekat dari candaannya untuk membujuk. Semuanya diperjual belikan dengan mata uang langka; perasaan. Semakin banyak yang kau beli, semakin banyak kehilangan dalam diri.

            Pada akhirnya, cinta bermutasi menjadi gumpalan hitam di dalam cermin. Kelamnya menutupi bagian hati yang ingin direfleksi. Gempitanya merusak keteraturan cahaya yang seharusnya bisa dengan mudah semesta belokkan. Pada akhirnya, kita semua akan sendirian di dalam gelapnya.

             I realize that I should have bought you flowers and held your hand. I should have gave you all my hours when I had the chance. And take you to every party, Cause, all you wanted to do was dance.

            Entah siapa yang memulainya, memuja cinta dengan semangat yang menggebu. Budaknya berseru mengatas namakan kasih sayang. Bersujud pada berhala berbentuk hati yang kurang realis desainnya. Kepada setiap umatnya—seolah cinta hanya turun satu kali setahun—cinta menjabat tangan mereka dan membisikkan perjanjian-perjanjian setan. Mereka lupa dengan sakitnya kehilangan. Mereka dibuat lupa akan besarnya kesakitan yang tak bisa tergantikan. Apa dunia sudah cukup bodoh untuk berubah menjadi merah muda? Menanggalkan warna hijau klasiknya dan menggunakan syal rajutan tangan dari kekasih. Motif hatinya pun tak bagus, benangnya kusut, dan warnanya memudar. Dari merah muda, menjadi merah anak-anak.


            Now my baby's dancing. But, she's dancing with another man


            Sejak dulu aku ingin menjadi cinta, mengirimkan sugesti-sugesti bodoh yang efeknya lebih kuat dari ganja, lebih candu dari marijuana. Harusnya cinta dikubur saja di Tartaros, berdampingan dengan mayat Kronos yang habis membatu. Demi petir Zeus yang tak lebih kuat dari tegangan kabel-kabel di atas tempat tidurku, aku berdoa untuk kesakitan mereka yang bercinta. Agar mereka sadar. Cinta yang membutakan, cinta yang menyumbat telinga, cinta yang memutus pita suara, cinta yang memecah tubuh menjadi berjuta-juta jaringan.

Friday, 24 January 2014

Reinkarnasi roti bakar keju coklat

Aku pernah sekali melihat matamu, teduh dan nyaman. Seperti tenda berlapis terpal biru yang sering kali dijadikan pemberhentian utama pengendara sepeda motor yang kehujanan.

Senyummu selalu lembut, bersambung dengan pipi yang terlihat empuk. Seperti roti tawar dengan kematangan sempurna yang sering kali disantap para budak metropolitan yang tak sempat lagi menyuap nasi.

Caramu tertawa selalu terdengar gurih. Seperti bagian-bagian hangus dari roti yang telat dibalik yang sering kali dimakan pertama karena lebih kompleks rasanya.

Air matamu menerjang ekspresi masam yang kemudian bercampur sunggingan manis. Seperti lelehan parutan keju mondseer  yang sering kali meluber kemana-mana ketika gigitan pertama letaknya tak sempurna.

Kamu punya gaya bicara yang menarik. Seperti sebatang coklat murni tanpa susu yang sering kali membuat produksi air liur anak-anak sekolah berlebihan.

Aku selalu menerka-nerka jika pelukmu hangat. Seperti setangkup roti bakar keju coklat yang baru saja diangkat Mang Ronal yang sering kali kuhabiskan sedirian di depan laptop.


Mungkin kamu adalah reinkarnasi dari salah satu roti bakar keju coklat yang pernah dihidangkan Mang Ronal. Jika pun iya, aku ingin di kehidupan berikutnya menjadi sekaleng susu kental manis yang menunggu di dalam laci gerobak berwarna merah ini. Menunggu untuk menyatu denganmu di dalam menu “Roti Bakar Keju Coklat Spesial.”

Friday, 10 January 2014

Puisi Berdiri

                Kamu yang terdiam bersama lembaran-lembaran kertas penuh frasa dan kalimat ambigu serba rumit. Memaku kaki di lantai keramik putih berpola sederhana yang kamu buat retak ketika sebuah sentakan palu bertemu kepala paku yang datar, lebih datar dari caramu membaca paragraf-paragraf yang terbit setiap harinya dari ujung pena yang selalu hilang sebelum tintanya terkuras habis.

                Kertas-kertas berpuisi itu memintamu untuk membacanya setiap malam, sekeras suara adzan yang rutin terdengar di mulut toa masjid di persimpangan rumahmu. Memejam menjadi isyarat ketidakan untuk permohonan mereka. Kamu membuat puisi-puisi itu bukan untuk dibaca segaduh teriakan anak jalanan yang dihujani klakson mobil mewah, atau sekeras muadzin yang bersemangat di senja pertama bulan puasa. Puisimu tak akan pernah terbaca. Kamu membuatnya hanya untuk berdiskusi dengan retakan-retakan hati, dengan kunang-kunang yang hanya terlihat indah di buku-buku bergambar, dengan setangkai mawar yang kelopaknya mulai berguguran sedikit, dengan detakan jam berbentuk persegi kecil di atas meja... tentang dia.

                Dia yang tak pernah kamu mengerti, yang sulit untuk diterka-terka seperti trik-trik pesulap jalanan di trotoar kota Sidney.

                Pada bunyi gesekan jarum jam terkecil pertama, kamu berharap dia datang, menyumpah-serapahi pada semua perasaan yang sebelumnya kalian puja hingga dia muak dan berhenti mencela, menyesali semua kebodohannya untuk percaya pada halusinasi saraf-saraf yang mengirimkan sinyal ke otaknya untuk jatuh cinta kepadamu. Kemudian kamu berikan sekotak penuh kenangan kalian selama berbulan-bulan setelah sore di mana kamu nyatakan perasaan dengan merah di muka, berisi potongan tiket-tiket bioskop yang terlipat di saku celana, struk pembelian dari berbagai minimarket di setiap sudut kota, bon pembayaran makan siang yang biasanya menebali dompet, foto-foto yang mengajarkan dunia bagaimana cara bercengkrama tanpa harus malu dipandang orang-orang dengan alis mata ditarik ke atas. Seketika memerah iris matanya karena asap dari abu yang tak habis dilalap api, karena asap dari barang-barang yang menjadi bukti kalian pernah sama-sama tergila-gila.

                Tapi, di dentangan bunyi jarum berikutnya kamu berharap dia datang, melingkarkan tangannya di pundakmu, mengamini semua doa-doa yang kamu bisikan seusai salam, dan mengajak untuk sekali lagi jatuh cinta bersama, melewati batas tertinggi, melewati batas rasa tergila-gila lebih dari orang yang pertama kali mencetuskan istilah abstrak itu. Kemudian dia membisikan ribuan janji untuk tetap berdiam dalam perasaan yang dibekukan agar tak mencair dan habis mengalir, sebelum mengecup ringan bibirmu yang sudah kering, bahkan kelenjar air liurmu pun berhenti karena senangnya.

                Puisimu hanya bisa menghiasi dinding kamar yang penuh noda kopi di sana-sini setelah setiap malam kamu guyur dengan sisa-sisa yang harusnya jadi tegukan terakhir, yang kamu rekatkan tiap sisinya dengan selotip bening, tapi tak setransparan isi kepalamu tiap kali berdiri di tengah ruang tidur berantakan itu, ketika kamu kemudian berputar-putar beberapa kali sampai menyadari kamu tak memiliki lagi spasi kosong untuk ditempeli. Puisi terakhir yang seharusnya jadi salam perpisahanmu sebelum benar-benar pergi.

                Kamu sampai harus menambah lingkaran hitam ekstra di sekeliling mata untuk mebuat pernyataan perpisahan kalian, puisi yang kamu bilang sebagai tanda terlepasnya simpul yang mengikat kata-kata takdir yang dulu sering jadi bahan obrolan serius ataupun sekedar candaan, karena tak ada yang mampu meyakinkanmu pada awalnya bahwa semua telah usai. Tak ada kata, peluk, cium, atau suara gema langkah kaki yang beranjak pergi, atau sebuah ledakan amarah yang membuatmu berubah pikiran, seperti kata ‘pergilah’ yang mungkin bisa jadi kata kunci untuk membuatmu sekali lagi berubah jadi debu dan berhenti memperjuangkan cinta, sebagai penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

                Sekarang hanya tinggal kamu sendiri bersama selembar puisi yang bingung. Puisi yang hanya bisa kamu pegang erat dengan kaki masih terpaku sedari tadi. Puisi perpisahan yang hanya bisa ikut berdiri di tengah-tengah puisi kenangan. Kamu mulai menipis, kamu jadi semakin terlihat mirip dengan kertas buram. Dengan prosa romantis yang mengalir dalam darah dan menjeplak ke atas kulitmu, kamu seperti puis berdiri.


                

Friday, 29 November 2013

November Rain



                “tekan pesan anda setelah nada berikut.”

                Bukan itu kalimat yang gue harapin dari orang yang mau gue ajak bicara di ujung telefon sana. Sudah lima belas menit, mungkin tombol dial ini udah bosan gue pencet puluhan kali sedari tadi. Mungkin, dia juga sudah bosan mendengar nada dering handphone-nya siang ini. Atau mungkin, gue sebentar lagi bakal menyerah dan ngelempar persegi panjang hitam ini ke dinding bak pitcher di pertandingan baseball yang sedang gue tonton.

                Home run. Pukulan keras dari ayunan tangan batter dengan lengan penuh lumpur itu sukses mengalihkan perhatian gue. Gak ada sorak sorai penonton yang terdengar dari televisi yang volumenya emang sengaja gue matiin. Mungkin apa yang dirasain batter nomer delapan ini sama dengan ketika beberapa bulan yang lalu, untuk pertama kalinya, gue melihat wajah Alia berubah merah padam saat mendengar pernyataan cinta. Pernyataan yang terucap begitu sulit setelah memukul jauh keluar lapangan bola gengsi. Pernyataan yang tak sebanding rumitnya dengan berlari menuju home base. Keduanya sama-sama punya rasa yang kuat untuk dicapai.

                 Siang ini atap rumah gue lagi gak bersahabat. Deruan keras yang gak karuan sedari tadi pagi masih belum berhenti juga. Beberapa selokan di deket rumah mungkin sekarang udah naik airnya. Gara-gara bedebah ini, janji makan siang gue sama Alia mesti dibatalin secara sepihak. Mau gimana lagi, rumah gue hujan deres, rumah dia panas terik kayak di Zimbabwe. Dan yang paling parah, dia ngambek. pertengkarannya emang simple; mendadak batalin rencana. Tapi, di tangan setiap cewek, hal seperti itu bisa jadi lebih ribet dari ngepang rambut Vin Diesel yang lagi balapan.

                Cewek emang gitu, medetail. Bahkan soal perkara mudah pun bisa mendetail sampe bawa-bawa nama mantan. Nyebelin iya, mau marah ntar kena counter attack. Ketika cowok udah kepancing sama upan masalah-dibelok-belokin-jadi-urusan-mantan-nya disitulah mereka bakal keluarin semua combo kesalahan-masa-lalu-yang-cowok-selalu-salah. Gue merasa salut untuk para cowok-cowok di luar sana yang bisa meredam semua emosi pasangannya.

                Di balik semua ketegaran luarbiasanya, belakangan gue baru sadar, ternyata cewek itu bakalan tetep jadi seorang cewek. Beberapa hari yang lalu gue sempet main ke rumah temen gue –Nady—yang dengan sukses membuka pikiran gue soal bagaimana sebenarnya cewek itu. Pas gue masuk ke rumahnya, Nady lagi sibuk ngelap-ngelap mata sembabnya. Dia belakangan kayaknya lagi hobi nangisin mantan. Ntahlah,mungkin gak semua orang gak suka barang kadaluarsa. Sepersekian detik setelah gue memposisika diri senyaman mungkin di sofa ruang tamunya, Nady langsung aja ngeberondong gue dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari gimana caranya tau kalo cowoknya masih suka apa nggak ke dia sampe cara bikin mie rebus pake laptop. Sebagian besar pertanyaannya Cuma gue jawab dengan senyum. Bukanya gak mau jawab, gue Cuma gak pernah mikirin hal yang bakalan Nady tanyain ke gue ini.

                Ada yang tau kenapa cewek kalo diputusn banter bener nangisnya? Apa itu semua emang karena terlalu sayang? Ato itu wujud kekecewaannya terhadap kepercayaan yang disia-siakan? Atao malah itu Cuma bertujuan buat menarik simpati mantannya? Itu teka-teki wanita. Yang tau Cuma tuhan dan...tuhan. tapi seenggaknya gue tau, kenapa Nady nanyain soal cara nyari tau perasaan cowok. Cewek selalu ngasih harapan lebih. Sekecewa apapun mereka, mereka tetap seorang wanita yang paling bisa ngasih perasaan super tulus. Dan gue percaya, hujan di bulan November ini sebagian besar berasal dari uapan air mata kepedihan mereka yang tertahan kasih sayang.


               

Friday, 8 November 2013

Kita dan delapan bulan yang lalu



Hari ini semua serba biasa. Cuma nasi goreng pake telur setengah mateng ini yang spesial. Selebihnya biasa. Kantin sekolah jarang bisa sesepi ini. Untuk makan dengan tanpa beradu siku saja memang sulit di sini jika sedang jam-jam padatnya. Lain ceritanya dengan sekarang. Gue memutuskan untuk sarapan di bagian ter”surga” ini sekitar jam setengah tujuh. Empat puluh lima menit sebelum bel masuk. Jam segini kantin Cuma diisi beberapa siswa kelewat rajin. Gue curiga, jangan-jangan mereka digaji buat bukain gerbang sekolah tiap subuh.

Jadilah gue di sini, meratapi nasi goreng yang sudah termakan separuhnya, sambil baca-baca materi pelajaran pertama hari ini. bukannya rajin, gue butuh media pengalihan dari penjaga-penjaga stand yang sejak tadi mondar-mandir di depan gue. Maklum, jam segini semua masih pada siap-siap mau jualan. Gue berhenti makan sejenak untuk ngebalik halaman buku catatan kimia. Masih angka-angka. Sebelum  suapan ke-14 gue pagi itu, Feri, temen gue yang paling homo, deketin meja tempat gue makan sambil ngibas-ngibasin selembar kertas di tangannya. Mukanya masih kusut. celana abu-abu kebesarannya yang hampir mirip rok dibelah dua itu cukup menyita perhatian.

“ada festival nih. Gue lagi butuh personil tambahan. Acaranya tanggal 14 besok. Gimana? Kita main berempat. Gue rencananya mau ngajak Vina sama Dika juga. Gue jadi drum, elu bass, Dika Gitar. Vina katanya tergantung lagu mau main keyboard apa gitar. Eh, vokalnya dia juga.”

Gue mengangguk. Mengiyakan ajakannya yang saat itu lebih mirip presenter di inovation store. Sayang, gue lupa satu hal pas mengiyakan ajakan dia barusan. Satu-satunya skill yang gue punya Cuma main tamagochi­ sambil minum susu coklat dari idung. Dan gue tau pasti, itu gak bakalan kepake di acara festival nanti.

Sorenya gue nungguin Feri di teras rumah. Dia janji mau jemput sekitar jam tiga. Ntah jam gue yang salah ato kita berdua hidup di benua yang berbeda, Gue sama Feri baru berangkat dari rumah ke studio sekitar jam empat. Begitu sampai di studio, gue disambut sebuah jabatan tangan bersahabat dari cewek berambut hitam lurus sebahu yang sepersekian detik setelahnya gue tau pasti siapa dia. Dia adalah karakter yang gambarkan Feri tadi pagi lewat sebuah nama. Vina. Matanya yang bulat namun tajam mungkin satu-satunya hal yang bisa gue deskripsikan dari dia dengan kata-kata. Selebihnya, ah ntah lah.  Ada yang tau kata yang lebih dari indah?

“dika nggak bisa ikut. Dia mesti latihan buat LCC lusa.”

“jadi? Cuma bertiga? Masa Cuma gue, lo, sama...”

Gue mengucap ringan nama panggilan gue setelah menangkap maksud kode darinya. My first fault, lupa nyebutin nama pas kenalan. Satu jam selanjutnya kami abisin buat bercengkrama dengan musik. Sedikit agak mepet memang. Band baru kami bentuk dua minggu sebelum acara. Sampai saat ini gue masih ingat detail dari satu jam pertama gue dengan Vina. Gue mash inget nama studionya, gue masih inget kaos item gue yang waktu itu basah oleh keringat dingin, gue masih inget kaos putih tangan panjangnya yang dilipat sedikit di bagian ujung, gue masih inget Feri lupa naikin resleting celananya, gue masih inget gimana Vina pertama kali ngucapin nama gue dengan suaranya yang mirip kokain buat gue. Penuh candu.

Dua minggu setelahnya, Gue, Vina, Feri, ditambah Lino, kakak kelas yang gantiin posisi Dika, berdiri sejajar di atas panggung SMA 3 Nusantara. Sedikit basa-basi dan salam hormat sebelum kami menyuguhkan semua dua minggu ke belakang. Buat gue, dua minggu kebelakang isinya Cuma Vina semua. Gak ada yang lain.

Yang namanya kalah ya tetep aja kalah. Kecewa memang. Tapi mau gimana lagi. Paling nggak bisa dapet pengalaman dan pelajaran dari kerja keras yang sekarang terlihat cukup sia-sia. Menurut gue, pelajaran terbaiknya itu gue jadi tau, kalo gue perlahan-lahan punya feeling ke Vina. Kenapa lagi-lagi dia? Apa konspirasi alam semesta buatan Tuhan ini sebegitu hebatnya? Apa Feri adalah malaikan pencabut nyawa yang dialihfungsikan Tuhan untuk mempertemukan gue sama Vina?
 
Sebulan lebih semenjak jabat tangan pertama gue dan Vina, sekarang keadaan sudah mulai berbeda. Ada beberapa hal yang sekarang sedikit lebih rumit, seperti menutup telfon selamat malam dan ucapan sayangnya yang pertama. What a lovely day. Lucu mengingat angka delapan yang menjadi angka favorit gue sejak dulu, sekarang ikut-ikutan menjadi angka di kalender yang harus gue inget setiap bulannya.

Itu cerita delapan bulan yang lalu. Selanjutnya?

Sunday, 27 October 2013

Oktober sedikit mendung

27 Oktober  2005

Berbeda dengan delapan bulan lain yang telah lalu, oktober kali ini lebih banyak menyuguhkan cerita. Padahal sebagian besar harinya gue lalui dengan tidur, tapi gue tetap bisa menarik berbagai kesimpulan dari beberapa kejadian di tiap oktober tahun ini. Gue gak ngomongin soal kejadian yang berbau politik atau hukum, bukan juga soal anak belum puber yang abis tumburan. Ini lebih kurang soal beberapa patahan di organ yang ambigu; hati.

Yup, lagi-lagi gue ngomongin soal masalah putus-memutus hubungan. Karena emang kayaknya hal ini yang terjadi di sekitar gue. Atau mungkin, imajinasi udah nge-blur­-in semua masalah yang baik-baik dari mata gue. Dari sekian banyak pesan hitam di bulan Oktober, satu yang cukup menyita perhatian gue. Sebuah pesan pelajaran dari sepasang kekasih yang terpaut jarak usia. Waktu menjadi dinding abadi untuk mereka.


23 Oktober 2005

“kak, masih lama jemputnya? Aku pulang sendiri aja ya.”

Telinga gue menangkap sebuah gelombang suara super merdu yang seketika membuyarkan lamunan gue. Gue menoleh sedikit ke samping, tetap berhati-hati agar pemilik suara tadi nggak merasa diliatin cowok dengan air muka semi-mesum. Sepersekian detik setelah gue ngeliat mukanya gue langsung inget kalo gue ketemu dia di sini kemarin. Ini kedua kalinya gue ketemu dengan mahasiswi ekstra unyu ini di halte bus deket sekolah. Dari tingkat ketebalan buku yang dia dekap di dadanya, pasti anak kedokteran. Dan dari nada bicara dia yang komposisi semangat hidupnya masih banyak, pasti baru semester awal. Mungkin sekitar 19 atau 20 tahunan.

Bus yang gue tunggu udah keliatan dari jauh. Makin lama maikin dekat, sampe bus itu udah benar-benar berenti secara total. Pintunya pas baget berenti di depan gue. Sebagai pelajar teladan, gue melompat masuk ke dalem bus yang masih sesak peuh penumpang yang mau turun. Alhasil, gue kalah badan sama mereka yang sukses nyeret gue balik keluar bus. Gue nyerah. Gue memilih untuk masuk belakangan. Ternyata gue satu bus sama cewek tadi. Sebelahan pula. Dia duduk di deket kaca, sementara gue duduk di undakan depan pintu. Nggak, maksudnya gue duduk di kursi deket jalan di sebelahnya. Posisi gue cukup dekat untuk mendengar semua keluh kesah yang coba dia ungakpin ke orang yang gue tebak adalah pacarnya. Sepanjang jalan dia Cuma monolog sama kaca bus yang sedikit burem setelah beberapa kali dikerok pake benda tajam untuk ngilangin bekas-bekas coretan tipex seniman pelajar yang over-kreatif. Dan selama perjalanan itu pula gue menjadi pendengar secara diam-diam.

Dia memulai sesi curhatnya, persis dengan ibu-ibu gaul yang mau curhat dengan mama dedeh. Bedanya, dia gak teriak “curhat dong, jok!” ke kursi di depannya yang dia jadiin samsak pukulan combo galaunya. Dia mengeluh soal keseriusan pacarnya yang menurut dia kelewat batas. Gue sempat berfikir kalo dia udah mau dilamar pas masih SMP, tapi gue langsung buru-buru mikirin hal lain. Cowoknya ini menurut dia terlalu hyper-super-protective. Bahkan sore ini dia harus rela pulang naik bus umum plus duduk di sebelah pelajar autis yang ngelamun sepanjang jalan gara-gara cowoknya gak ngebolehin dia pulang sama temennya. Temen cowoknya, dia nambahin. In antoher moment, mereka bahkan pernah berantem di lobby bioskop gegara cewek malang ini gak kunjung ngenalin pacarnya ke orang tuanya.


18 Oktober 2005

                Lorong dengan banyak bingkai poster yang tergantung di sisi-sisinya itu tak lagi hening. Sebuah pertengkaran (bersuara) kecil mendadak pecah secara diam-diam di salah satu sudutnya.

“jadi, kapan kamu mau kenalin aku sama orang tua kamu?”

“kenapa sih mesti ngebahas ini mulu tiap kali ketemu? Kamu kan tau kalo aku udah bawa kamu ke rumah, berarti aku udah serius sama hubungan.”

“emang seharusnya kamu serius dengan ‘kita’ kan? “

“maksudnya married, kak. Adat keluarga aku beda dengan kamu. Di keluarga aku, kalo udah kenalin pacar ke rumah, berarti dia udah siap ke tahap selanjutnya.”

“bukannya emang itu tujuan kita? Aku udah siap kok. Aku udah mapan. Aku kurang apa buat kamu?”

“aku yang belum siap. Aku yang kurang buat kamu. Lagian aku masih harus belajar. Aku masih punya beberapa semester lagi buat diselesaiin. Aku juga udah punya rencana buat ngambil S2. Lagi pula, aku belum terlalu serius sekarang.”

“tapi aku serius. Bukannya tujuan kamu nerima pernyataan cinta aku dua tahun lalu itu untuk serius? Lalu untuk apa selama ini kalau bukan untuk serius?”

have fun?

aku ngerasa bodoh udah kemakan semua omongan kamu. Sudahlah.”

“eh, mau kemana?”

“mau cari yang lebih serius.”

“terus filmnya? Aku udah lama pengen nonton Harry Potter yang ini. Goblet of Fire kata temen-temen aku lebih seru dari yang sebelumnya.”

“kamu emang gak pernah bisa serius ya?”

“....”

Setiap pasangan biasanya memulai suatu hubungan dengan tujuan have fun. Cuma kadang di tengah-tengah cerita, sejalan dengan waktu, salah satu dari mereka mulai kehilangan fun sense-nya dan perlahan lahan mengikuti perasaan untuk menjadi lebih dewasa dengan hubungan. Dengan kata lain, they lost their funny moment when the serious one start speaking about his opinion. Hubungan beda usia salah gak? Itu yang sekarang lagi gue coba untuk cari tau.


27 Oktober 2005
            
    “ngelamun mulu. Mikirin apa sih? Kok diem?”
          
      Suara melodis itu lagi-lagi ngebuyarin imajinasi super gue dengan pertanyaan yang gak mungkin gue jawab dengan jujur. Paling banter juga Cuma jawab ‘gak ada’ kayak biasa tiap gue ketangkep lagi ngelamun di deket dia. Ya mana mungkin gue bilang ‘lagi ngelamunin cara kamu ditinggalin mantan kamu pas di bioskop kemaren.’ Bisa-bisa sekarang gantian gue yang ditinggalin dia.